Tidak seperti biasanya, hari itu Ali bin Abi Thalib pulang lebih sore menjelang asar. Fatimah binti Rasulullah menyabut kedatangan suaminya yang sehari suntuk mencari rezeki dengan sukacita. Siapa tahu Ali membawa uang lebih banyak karena kebutuhan di rumah makin besar.
Sesudah melepas lelah, Ali berkata kepada Fatimah. "Maaf sayangku, kali ini aku tidak membawa uang sepeserpun."Fatimah menyahut sambil tersenyum, "Memang yang mengatur rezeki tidak duduk di pasar, bukan? Yang memiliki kuasa itu adalah Allah Ta'ala."
"Terima kasih," jawab Ali.
Matanya memberat lantaran istrinya begitu tawakal. Padahal persediaan dapur sudah ludes sama sekali. Toh Fatimah tidak menunjukan sikap kecewa atau sedih.Ali lalu berangkat ke masjid untuk menjalankan salat berjama'ah.
Sepulang dari sembahyang, di jalan ia dihentikan oleh seorang tua. "Maaf anak muda, betulkah engkau Ali anaknya Abu Thalib?"
Áli menjawab heran. "Ya betul. Ada apa, Tuan?''
Orang tua itu merogoh kantungnya seraya menjawab, "Dahulu ayahmu pernah kusuruh menyamak kulit. Aku belum sempat membayar ongkosnya, ayahmu sudah meninggal. Jadi, terimalah uang ini, sebab engkaulah ahli warisnya."Dengan gembira Ali mengambil haknya dari orang itu sebanyak 30 dinar.Tentu saja Fatimah sangat gembira memperoleh rezeki yang tidak di sangka-sangka ketika Ali menceritakan kejadian itu. Dan ia menyuruh membelanjakannya semua agar tidak pusing-pusing lagi merisaukan keperluan sehari-hari.Ali pun bergegas berangkat ke pasar.
Sebelum masuk ke dalam pasar, ia melihat seorang fakir menadahkan tangan, "Siapakah yang mau menghutangkan hartanya untuk Allah, bersedekahlah kepada saya, seorang musafir yang kehabisan bekal di perjalanan."
Tanpa pikir panjang lebar, Ali memberikan seluruh uangnya kepada orang itu.Pada waktu ia pulang dan Fatimah keheranan melihat suaminya tidak membawa apa-apa, Ali menerangkan peristiwa yang baru saja dialaminya.Fatimah, masih dalam senyum, berkata, "Keputusan kanda adalah yang juga akan saya lakukan seandainya saya yang mengalaminya. Lebih baik kita menghutangkan harta kepada Allah daripada bersifat bakhil yang di murkai-Nya, dan menutup pintu surga buat kita."
-----------------
Sumber : Kisah-Kisah Teladan
Tampilkan postingan dengan label Oase Iman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Oase Iman. Tampilkan semua postingan
Jumat, 02 Mei 2008
Rabu, 30 April 2008
Konsep Kebahagiaan Dalam Islam
Kondisi senantiasa bahagia dalam situasi apa pun, inilah. yang senantiasa dikejar oleh manusia. Manusia ingin hidup bahagia. Hidup tenang, tenteram, damai, dan sejahtera. Sebagian orang mengejar kebahagiaan dengan bekerja keras untuk menghimpun harta. Dia menyangka bahwa pada harta yang berlimpah itu terdapat kebahagaiaan. Ada yang mengejar kebahagiaan pada tahta, pada kekuasaan. Beragam cara dia lakukan untuk merebut kekuasaan. Sehab menurtnya kekuasaan identik dengan kebahagiaan dan kenikmatan dalam kehidupan. Dengan kekuasaan sesrorang dapat berbuat banyak. Orang sakit menyangka, bahagia terletak pada kesehatan. Orang miskin menyangka, bahagia terletak pada harta kekayaan. Rakyat jelata menyangka kebahagiaan terletak pada kekuasaan. Dan sangkaan-sangkaan lain.
Lantas apakah yang disebut"bahagia' (sa'adah/happiness)?
Selama ribuan tahun, para pemikir telah sibuk membincangkan tentang kebahagiaan. Kebahagiaan adalah sesuatu yang ada di luar manusia, dan bersitat kondisional. Kebahagiaan bersifat sangat temporal. Jika dia sedang berjaya, maka di situ ada kebahagiaan. Jika sedang jatuh, maka hilanglah kebahagiaan. Maka. menurut pandangan ini tidak ada kebahagiaan yang abadi dalam jiwa manusia. Kebahagiaan itu sifatnya sesaat, tergantung kondisi eksternal manusia. Inilah gambaran kondisi kejiwaan masyarakat Barat sebagai: "Mereka senantiasa dalam keadaan mencari dan mengejar kebahagiaan, tanpa merasa puas dan menetap dalam suatu keadaan.
Islam menyatakan bahwa "Kesejahteraan' dan "kebahagiaan" itu bukan merujuk kepada sifat badani dan jasmani insan, bukan kepada diri hayawani sifat basyari; dan bukan pula dia suatu keadaan hayali insan yang hanva dapat dinikmati dalam alam fikiran belaka.
Keselahteraan dan kebahagiaan itu merujuk kepada keyakinan diri akan hakikat terakhir yang mutlak yang dicari-cari itu — yakni: keyakinan akan Hak Ta'ala — dan penuaian amalan yang dikerjakan oleh diri berdasarkan keyakinan itu dan menuruti titah batinnya.'
Jadi, kebahagiaan adalah kondisi hati yang dipenuhi dengan keyakinan (iman) dan berperilaku sesuai dengan keyakinannya itu. Bilal bin Rabah merasa bahagia dapat mempertahankan keimanannya meskipun dalam kondisi disiksa. Imam Abu Hanifah merasa bahagia meskipun harus dijebloskan ke penjara dan dicambuk setiap hari, karena menolak diangkat menjadi hakim negara. Para sahabat nabi, rela meninggalkan kampung halamannya demi mempertahankan iman. Mereka bahagia. Hidup dengan keyakinan dan menjalankan keyakinan.
Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannva. Sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Apakah kamu tidak memahaminya?
Menurut al-Ghazali, puncak kebahagiaan pada manusia adalah jika dia berhasil mencapai ma'rifatullah", telah mengenal Allah SWT. Selanjutnya, al-Ghazali menyatakan:
"Ketahuilah bahagia tiap-tiap sesuatu bila kita rasakan nikmat, kesenangan dan kelezatannya mara rasa itu ialah menurut perasaan masing-masing. Maka kelezatan (mata) ialah melihat rupa yang indah, kenikmatan telinga mendengar suara yang merdu, demikian pula segala anggota yang lain dan tubuh manusia.
Ada pun kelezatan hati ialah ma'rifat kepada Allah, karena hati dijadikan tidak lain untuk mengingat Tuhan. Seorang rakyat jelata akan sangat gembira kalau dia dapat herkenalan dengan seorang pajabat tinggi atau menteri; kegembiraan itu naik berlipat-ganda kalau dia dapat berkenalan yang lebih tinggi lagi misalnya raja atau presiden.
Maka tentu saja berkenalan dengan Allah, adalah puncak dari segala macam kegembiraan. Lebih dari apa yang dapat dibayangkan oleh manusia, sebab tidak ada yang lebih tinggi dari kemuliaan Allah. Dan oleh sebab itu tidak ada ma'rifat yang lebih lezat daripada ma'rifatullah.
Ma'rifalullah adalah buah dari ilmu. Ilmu yang mampu mengantarkan manusia kepada keyakinan. bahwa tiada Tuhan selain Allah" (Laa ilaaha illallah). Untuk itulah, untuk dapat meraih kebahagiaan yang abadi, manusia wajib mengenal Allah. Caranya, dengan mengenal ayat-ayat-Nya, baik ayat kauniyah maupun ayat qauliyah.
Banyak sekali ayat-ayat al-Quran yang memerintahkan manusia memperhatikan dan memikirkan tentang fenomana alam semesta, termasuk memikirkan dirinya sendiri.
Disamping ayat-ayat kauniyah. Allah SWT juga menurunkan ayat-ayat qauliyah, berupa wahyu verbal kepada utusan-Nya yang terakhir, yaitu Nabi Muhammad saw. Karena itu, dalam QS Ali Imran 18-19, disebutkan, bahwa orang-orang yang berilmu adalah orang-orang yang bersaksi bahwa "Tiada tuhan selain Allah", dan bersakssi bahwa "Sesungguhnya ad-Din dalam pandangan Allah SWT adalah Islam."
Inilah yang disebut ilmu yang mengantarkan kepada peradaban dan kebahagiaan. Setiap lembaga pendidikan. khususnya lembaga pendidikan Islam. harus mampu mengantarkan sivitas akademika-nya menuju kepada tangga kebahagiaan yang hakiki dan abadi. Kebahagiaan yang sejati adalah yang terkait antara dunia dan akhirat.
Kriteria inilah yang harusnya dijadikan indikator utama, apakah suatu program pendidikan (ta'dib) berhasil atau tidak. Keberhasilan pendidikan dalam Islam bukan diukur dari berapa mahalnya uang hayaran sekolah; berapa banyak yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri dan sebagainya. Tetapi apakah pendidikan itu mampu melahirkan manusia-manusia yang beradab yang mengenal Tuhannya dan beribadah kepada Penciptanya.
Manusia-manusia yang berilmu seperti inilah yang hidupnya hahagia dalam keimanan dan keyakinan: yang hidupnya tidak terombang-ambing oleh keadaan. Dalam kondisi apa pun hidupnya bahagia, karena dia mengenal Allah, ridha dengan keputusanNya dan berusaha menyelaraskan hidupnya dengan segala macam peraturan Allah yang diturunkan melalui utusan-Nya.
Karena itu kita paham, betapa berbahayanya paham relativisme kebenaran yang ditaburkan oleh kaum liberal. Sebab, paham ini menggerus keyakinan seseorang akan kebenaran. Keyakinan dan iman adalah harta yang sangat mahal dalam hidup. Dengan keyakinan itulah, kata Igbal, seorang Ibrahim a.s. rela menceburkan dirinya ke dalam api. Penyair besar Pakistan ini lalu bertutur hilangnya keyakinan dalam diri seseorang. lebih buruk dari suatu perbudakan.
Sebagai orang Muslim, kita tentu mendambakan hidup bahagia semacarn itu; hidup dalam keyakinan: mulai dengan mengenal Allah dan ridha, menerima keputusan-keputusan-Nva, serta ikhlas menjalankan aturan-aturan-Nya. Kita mendambakan diri kita merasa bahagia dalam menjalankan shalat, kita bahagia menunaikan zakat, kita bahagia bersedekah, kita bahagia menolong orang lain, dan kita pun bahagia menjalankan tugas amar ma'ruf nahi munkar.
Dalam kondisi apa pun. maka "senangkanlah hatimu!" Jangan pernah bersedih.
"Kalau engkau kaya. senangkanlah hatimu! Karena di hadapanmu terbentang kesempatan untuk mengerjakan yang sulit-sulit melalui hartamu.
"Dan jika engkau fakir miskin, senangkan pulalah hatimu! Karena engkau telah terlepas dari suatu penyakit jiwa, penyakit kesombongan yang sering menimpa orang-orang kaya. Senangkanlah hatimu karena tak ada orang yang akan hasad dan dengki kepadamu lagi, lantaran kemiskinanmu..."
"Kalau engkau dilupakan orang, kurang masyhur, senangkan pulalah hatimu! Karena lidah tidak banyak yang mencelamu, mulut tak banyak mencacimu..."
Mudah-mudahan. Allah mengaruniai kita ilmu yang mengantarkan kita pada sebuah keyakinan dan kebahagiaan abadi, dunia dan akhirat. Amin.
Lantas apakah yang disebut"bahagia' (sa'adah/happiness)?
Selama ribuan tahun, para pemikir telah sibuk membincangkan tentang kebahagiaan. Kebahagiaan adalah sesuatu yang ada di luar manusia, dan bersitat kondisional. Kebahagiaan bersifat sangat temporal. Jika dia sedang berjaya, maka di situ ada kebahagiaan. Jika sedang jatuh, maka hilanglah kebahagiaan. Maka. menurut pandangan ini tidak ada kebahagiaan yang abadi dalam jiwa manusia. Kebahagiaan itu sifatnya sesaat, tergantung kondisi eksternal manusia. Inilah gambaran kondisi kejiwaan masyarakat Barat sebagai: "Mereka senantiasa dalam keadaan mencari dan mengejar kebahagiaan, tanpa merasa puas dan menetap dalam suatu keadaan.
Islam menyatakan bahwa "Kesejahteraan' dan "kebahagiaan" itu bukan merujuk kepada sifat badani dan jasmani insan, bukan kepada diri hayawani sifat basyari; dan bukan pula dia suatu keadaan hayali insan yang hanva dapat dinikmati dalam alam fikiran belaka.
Keselahteraan dan kebahagiaan itu merujuk kepada keyakinan diri akan hakikat terakhir yang mutlak yang dicari-cari itu — yakni: keyakinan akan Hak Ta'ala — dan penuaian amalan yang dikerjakan oleh diri berdasarkan keyakinan itu dan menuruti titah batinnya.'
Jadi, kebahagiaan adalah kondisi hati yang dipenuhi dengan keyakinan (iman) dan berperilaku sesuai dengan keyakinannya itu. Bilal bin Rabah merasa bahagia dapat mempertahankan keimanannya meskipun dalam kondisi disiksa. Imam Abu Hanifah merasa bahagia meskipun harus dijebloskan ke penjara dan dicambuk setiap hari, karena menolak diangkat menjadi hakim negara. Para sahabat nabi, rela meninggalkan kampung halamannya demi mempertahankan iman. Mereka bahagia. Hidup dengan keyakinan dan menjalankan keyakinan.
Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannva. Sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Apakah kamu tidak memahaminya?
Menurut al-Ghazali, puncak kebahagiaan pada manusia adalah jika dia berhasil mencapai ma'rifatullah", telah mengenal Allah SWT. Selanjutnya, al-Ghazali menyatakan:
"Ketahuilah bahagia tiap-tiap sesuatu bila kita rasakan nikmat, kesenangan dan kelezatannya mara rasa itu ialah menurut perasaan masing-masing. Maka kelezatan (mata) ialah melihat rupa yang indah, kenikmatan telinga mendengar suara yang merdu, demikian pula segala anggota yang lain dan tubuh manusia.
Ada pun kelezatan hati ialah ma'rifat kepada Allah, karena hati dijadikan tidak lain untuk mengingat Tuhan. Seorang rakyat jelata akan sangat gembira kalau dia dapat herkenalan dengan seorang pajabat tinggi atau menteri; kegembiraan itu naik berlipat-ganda kalau dia dapat berkenalan yang lebih tinggi lagi misalnya raja atau presiden.
Maka tentu saja berkenalan dengan Allah, adalah puncak dari segala macam kegembiraan. Lebih dari apa yang dapat dibayangkan oleh manusia, sebab tidak ada yang lebih tinggi dari kemuliaan Allah. Dan oleh sebab itu tidak ada ma'rifat yang lebih lezat daripada ma'rifatullah.
Ma'rifalullah adalah buah dari ilmu. Ilmu yang mampu mengantarkan manusia kepada keyakinan. bahwa tiada Tuhan selain Allah" (Laa ilaaha illallah). Untuk itulah, untuk dapat meraih kebahagiaan yang abadi, manusia wajib mengenal Allah. Caranya, dengan mengenal ayat-ayat-Nya, baik ayat kauniyah maupun ayat qauliyah.
Banyak sekali ayat-ayat al-Quran yang memerintahkan manusia memperhatikan dan memikirkan tentang fenomana alam semesta, termasuk memikirkan dirinya sendiri.
Disamping ayat-ayat kauniyah. Allah SWT juga menurunkan ayat-ayat qauliyah, berupa wahyu verbal kepada utusan-Nya yang terakhir, yaitu Nabi Muhammad saw. Karena itu, dalam QS Ali Imran 18-19, disebutkan, bahwa orang-orang yang berilmu adalah orang-orang yang bersaksi bahwa "Tiada tuhan selain Allah", dan bersakssi bahwa "Sesungguhnya ad-Din dalam pandangan Allah SWT adalah Islam."
Inilah yang disebut ilmu yang mengantarkan kepada peradaban dan kebahagiaan. Setiap lembaga pendidikan. khususnya lembaga pendidikan Islam. harus mampu mengantarkan sivitas akademika-nya menuju kepada tangga kebahagiaan yang hakiki dan abadi. Kebahagiaan yang sejati adalah yang terkait antara dunia dan akhirat.
Kriteria inilah yang harusnya dijadikan indikator utama, apakah suatu program pendidikan (ta'dib) berhasil atau tidak. Keberhasilan pendidikan dalam Islam bukan diukur dari berapa mahalnya uang hayaran sekolah; berapa banyak yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri dan sebagainya. Tetapi apakah pendidikan itu mampu melahirkan manusia-manusia yang beradab yang mengenal Tuhannya dan beribadah kepada Penciptanya.
Manusia-manusia yang berilmu seperti inilah yang hidupnya hahagia dalam keimanan dan keyakinan: yang hidupnya tidak terombang-ambing oleh keadaan. Dalam kondisi apa pun hidupnya bahagia, karena dia mengenal Allah, ridha dengan keputusanNya dan berusaha menyelaraskan hidupnya dengan segala macam peraturan Allah yang diturunkan melalui utusan-Nya.
Karena itu kita paham, betapa berbahayanya paham relativisme kebenaran yang ditaburkan oleh kaum liberal. Sebab, paham ini menggerus keyakinan seseorang akan kebenaran. Keyakinan dan iman adalah harta yang sangat mahal dalam hidup. Dengan keyakinan itulah, kata Igbal, seorang Ibrahim a.s. rela menceburkan dirinya ke dalam api. Penyair besar Pakistan ini lalu bertutur hilangnya keyakinan dalam diri seseorang. lebih buruk dari suatu perbudakan.
Sebagai orang Muslim, kita tentu mendambakan hidup bahagia semacarn itu; hidup dalam keyakinan: mulai dengan mengenal Allah dan ridha, menerima keputusan-keputusan-Nva, serta ikhlas menjalankan aturan-aturan-Nya. Kita mendambakan diri kita merasa bahagia dalam menjalankan shalat, kita bahagia menunaikan zakat, kita bahagia bersedekah, kita bahagia menolong orang lain, dan kita pun bahagia menjalankan tugas amar ma'ruf nahi munkar.
Dalam kondisi apa pun. maka "senangkanlah hatimu!" Jangan pernah bersedih.
"Kalau engkau kaya. senangkanlah hatimu! Karena di hadapanmu terbentang kesempatan untuk mengerjakan yang sulit-sulit melalui hartamu.
"Dan jika engkau fakir miskin, senangkan pulalah hatimu! Karena engkau telah terlepas dari suatu penyakit jiwa, penyakit kesombongan yang sering menimpa orang-orang kaya. Senangkanlah hatimu karena tak ada orang yang akan hasad dan dengki kepadamu lagi, lantaran kemiskinanmu..."
"Kalau engkau dilupakan orang, kurang masyhur, senangkan pulalah hatimu! Karena lidah tidak banyak yang mencelamu, mulut tak banyak mencacimu..."
Mudah-mudahan. Allah mengaruniai kita ilmu yang mengantarkan kita pada sebuah keyakinan dan kebahagiaan abadi, dunia dan akhirat. Amin.
Jumat, 25 April 2008
Melihat Kedisiplinan Kita
Saudaraku di jalan Allah,Hari ini kita masih dan terus meniti jalan dakwah ini dengan cinta dan harap.Cinta yang mengail beban-beban yang terkadang membuat luka.Harap yang tidak jarang membekaskan kekhawatiran kalau-kalau kita terjatuh.Dan kita bersyukur Allah memberikan kesempatan bagi kita untuk menarik nafas menggerakkan tangan dan jari-jari kita. Hingga mouse yang tergenggam membantu kita untuk mengexplorasi nasihat-nasihat mutiara kesegaran dalam dunia maya ini.
Saudaraku yang dirahmati Allah ta'ala,
Hari ini berbagai cobaan dan tantangan hidup terus digulirkan-Nya guna membersihkan generasi ini dari kekesatan jiwa, dari hati-hati yang hampa. ALlah dengan kelembutannya mengkaruniakan kita pekerjaan-pekerjaan besar yang gunung-gunung gagah pun enggan menerimanya. Maka dengan kebeningan jiwa dan kesucian hatilah pekerjaan-pekerjaan mulia berkail amanah itu bisa kita tuntaskan. Akhi, begitu banyak kekuatan dan planning setan dalam emperlambat dan mangacaubalaukan erja dakwah kita. Sungguh tidak sedikit modal yang kita siapkan dalammenghajar segala bentuk kekufuran yang mereka promosikan. "Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambatkan, yang dengannya kamu menggetarkan musuh-musuh Allah, musuh-musuhmu dan musuh yang tidak kau ketahui sedang Ia mengetahui." (QS alAnfal). Kekuatan Iman dan doa, keluasan ilmu dan tsaqofah, kejernihan jiwa dan ruh, hingga keperkasaan jasad dan strategi. Plus Disiplin.
Akhi, begitu banyak bagian dari modal-modal tempur kita telah peroleh atas izin-Nya. Belum sempurna memang, namun proses pematangan dan penempaan alamiah akan terus berjalan. "Am hasibtum an tadkhulul jannah ...al-Baqoroh:204" Belum jelas siapa dari kita yang lolos verifikasi amal di akhirat, yakin masuk surga? Sementara amal-amal kita belum seujung kuku dari kerja dakwah RasuluLlah SAW wa sahabat. Satu dari amalan yang menunjang kita dalam proses pengusungan kebangkitan Islam ialah sikap disiplin. Komit dengan waktu, komitmen dengan janji. Ialah sebuah kekuatan yang memaksimalkan kekuatan iman dan senjata doa yang dimiliki. Ialah pengiring dalam memantapkan keluasan ilmu dan tsaqofah kita. Disiplin mengajarkan kita beramal dengan ahsan profesional. Tanpanya barisan dakwah pun berantakan. Tanpa disiplin tujuan-sasaran-target dakwah melemah. Maka displin menjadi mutlak dimiliki setiap jundi-jundi fii sabilillah.
Saudaraku fillah, ketika Umar bin Khaththab ra mendisiplinkan warior-wariornya untuk selalu bersiwak dalam sebuah pertempuran, terjadilah percepatan kemenangan. Tika Khalid bin Walid ra mengatur barisan brimob dan infantrinya dalam Mut'ah dan Yarmuk dengan full kedisplinan, maka pasukan musuh yang sampai 10-60 kali lipat pun bisa terpukul parah. Disilplin yang diajarkan Rasulullah SAW ialah ketika sahabat dilarang merusak tanaman dan rumah ibadat dalam sariyah dan patroli, maka sahabat tidak merusak tanaman dan rumah ibadat. Ketika dilarang membuka surat perintah dalam 2 hari perjalan, maka sahabat tidak membuka surat perintahnya. Ketika intruksi Panglima SAW hanya mengintai, maka sahabat pun sekedar mengintai sekalipunberkesempatan membunuh.Bukanlah kedisiplnanRabbaniah itu seperti yangditampilkan oleh pasukan panah Muslim di perang Uhud.Bukan pula oleh sahabat yang membunuh saat masuk Rajab (bulan haram berperang) ketika perintah hanya sekedar berspionase. Bukan pula disiplin itu sikap yang hadir dalam diri Kaab bin Malik ra.Disiplin ialah sami'na wa atho'na. DIsiplin ialahmeresapi 'Waktu adalah pedang'. Disiplin bukan terlambat, terlebih menetang. Disiplin ialah tepat waktu, tepat sasaran. Nah, akhi sudahkah kita mewarnai kerja-kerja dengan kedisplinan?
Suatu hari rasulullah punya janji meeting dengan seseorang di suatu tempat. RasuluLlah datang on time bahkan menunggu seharian guna menunaikan janjinya. Dalam memenuhi hak istri-istrinya pun Rasul melakukannya dengan disiplin. RasuluLlah sangat menekankan agar umatnya tepat waktu dalam menunaikan sholat jamaah. Sebab sholat jamaah dimulai dari panggilan adzan hingga penutupan salam sholat memberikan sebuah tarbiyah indhiba' (pembinaan kedisiplinan). Dalam memenuhi hak istri-istrinya pun Rasul melakukan dengan disiplin. Entah bagaimana jadinya jika Fathu Makkah, tidak terlaksana sesuai jadwal waktu yang diplanningkan. Seorang sahabat ra yang ditugaskan menjaga pasukan berinisiatif mengisinya dengan sholat, tiba-tiba panah melesat dan menancap di tubuhnya. Namun ia terus melanjutkan sholatnya karena keengganan memutus bacaan sholatnya yang begitu terkhusyukkan, hingga panah berikutnya mampir lagi. Kita melihat betapa ia sangat khusyu dan taqorrub, namun dari segi askariyah/militer, barangkali panah tersebut merupakan teguran Allah atas kelalaiannya menjaga. Bagaimanakah kiranya saat ia sholat kemudian satu kompi pasukan kufar menerobos lewat posnya sementara ia sedang asyik sholat hingga tidak sempat memperingatkan pasukan muslim yang lain. Entah apa akibat yang diperoleh muslimin saat menghadapi tentara salibis dalam perang salib, jika saja Shalahuddin tidak menerapkan kedisiplinan dalam penjagaan dan qiyamul lail tentaranya.
Saudaraku, suatu hari dalam acara rihlah, para ikhwan berangkat dengan sebuah mobil bus, dan ketika ikhwan menaiki bus tersebut, mereka berebutan kursi hingga Imam Hasan alBanna membatalkan rihlah tersebut demi melihat kejadian tersebut. Maka bagaimanakah dengan kedisiplinan kita akhi? Bagaimanakah dengan komitmen kita terhadap kerja dakwah? Terhadap janji dan ketepatan waktu kita?
"Insya Allah jam 09.00 kita rapat, setuju?". "Setuju".
Besoknya,"Afwan,ana terlambat 30 menit."
"Afwan ana ada urusan mendadak."
"Afwan tadi sedang fotokopi, jadi terlambat."
"Afwan ..."."Ya, baiklah kita buka rapat pukul 10.00. Pekan depan jam 10.00 kita mulai."
Pekan depannya,"afwan ...."
"Ok akhi kita buka acara kita jam 11.00."
"Gimana laporan amal kerja dakwah antum, hari minimal 90% selesai yah?!"
"E... afwan ana sudah 60%."
"Ana baru 30%, afwan ya akhi.."
Barangkali cuplikan dialog singkat pernah kita jumpai akhi, atau sering dijumpai? Lihatlah ketika ikhwah membuat acara seminar atau pengajian atau sejenisnya. Di pamplet/publikasi terpampang acara di mulai pukul 08.00, pada hari H dengan berbagai kendala acara dimulai pukul 09.00 waktu setempat. Dalam undangan rapat tertulis jam 13.00, akhirnya demi menunggu keterlambatan satu-persatu personil, rapat dimulai jam 14.00 Lalu apa yang membedakan kita dengan masyarakat ammah.
Akhi, apa yang bisa kita qudwah-kan kepada masyarakat kita kalau ternyata komitmen kita terhadap waktu dan kerja dakwah sama lembeknya dengan mereka. Bukankah kita kader dakwah, selalu menggaungkan uswatun hasanah RasuluLlah SAW. Dimana kedisiplinan kita akhi ...
Akhi, ana pernah dalam satu hari menghadiri 4 acara rapat planning dakwah kampus plus liqoat (diisi). Dari rapat yang dihadiri 'pejabat tinggi' kampus sampai rapat kepanitian kecil, semuanya terlambat dimulai. Plus liqoat yang hampir setiap pekannya terlambat. Jika guru kencing berdiri maka murid kencing berlari. Seorang ulama pernah berkata :Jika ulama terbiasa dengan yang mubah, maka umat biasa dengan yang makruh. JIka ulama terbiasa dengan yang makruh, maka umat terbiasa dengan yang syubhat. Jika ulama biasa dengan yang syubhat maka umat terbiasa dengan yang haram, Jika ulamanya melakukan yang haram, maka umat pun menjadi kafir."
Sebuah gambaran standar posisi guru dan murid. Dua rapat pleno yang membahas grand design dakwah kampus, semua terlambat datang kecuali seorang akhwat. Ana sendiri terlambat 3 menit, pun dengan mati-matian tepat waktu, sampai berlari-lari menuju ruangan,... eh taunya 'para petinggi' belum satu pun yang nongol. Bagaimana kader di bawah atau objek dakwah bisa disiplin jika gurunya saja ....
Ketika ana mengawal ustadz Anis Matta Lc jaulah keliling Sulsel, dalam satu pagi rombongan ba'da subuh jalan-jalan menghirup udara fresh paginya Pare-pare. Ana mencuri tanya kepada beliau tentang kedisplinan. Beliau mengatakan ada 2 hal yang membuat seseorang terlambat, pertama karena kemalasan, kedua karena kesibukan aktivitas dakwah yang padat. Yang berbahaya dan berpengaruh negatif terhadap kinerja dakwah ialah yang pertama.
Akhi, ada 2 kekhawatiran ana terhadap fenomena ketidakdisiplinan ini, ialah :
1. Memperlambat pencapaian target/kinerja dakwah. Jika kita terbiasa terlambat, maka kebiasaan ini pun menular pada kerja-kerja lainnya. Apalagi jika terlambat karena kemalasan. Jika kita punya jadwal rapat jam 08.30, ba'da subuhnya kita berdzikir, mandi dan bersih-bersih. Jam 07.00-08.00 sarapan + nonton berita, 08.00-08.20 pergi memfotokopi berkas lanjut perjalanan ke tempat tujuan rapat 08.20-08.45. Bertemu dengan ikhwah dan mengatakan afwan tadi sedang fotokopi jadi terlambat. Sementara jasa fotokopi sudah buka pukul 07.00!!! TIdak heran dalam rapat Grand Design dakwah kampus ana terkekeh kecil dalam hati mendengar target-target waktu pencapaiannya. Dan terbukti, tidak ada yang memenuhi target. Lamban bin lambat.
2. Dosa. Kita bersepakat berkumpul jam 10.00 dalam sebuah acara. Saat hari H ana punya cucian yang selesai jam 10.30 atau mengerjakan laporan praktikum yang akan selesai jam 10.45. Namun demi memenuhi janji ana menunda pekerjaan ana untuk datang pada janji I, berkumpul jam 10.00. Dan ternyata mereka terlambat dan acara dimulai jam 11.00. Kalaulah sebelumnya disepakati jam 11.00 niscaya sekian pekerjaan telah selesai, dan ana hanya bisa menunggu sambil mengingat PR-PR yang bertumpuk. Ana melihat ini sebagai aktivitas penzholiman terhadap saudara. Dan masih banyak kejadian sejenis sebagai bentuk penghargaan terhadap waktu yang bagitu 'sederhana'.
Hup. Akhi, antum punya solusi? Afwan sudah jam 04.30 dan ana mulai ngantuk. Kita nyambung di lain kesempatan...
BRIGADE - 01/Nugra S
Saudaraku yang dirahmati Allah ta'ala,
Hari ini berbagai cobaan dan tantangan hidup terus digulirkan-Nya guna membersihkan generasi ini dari kekesatan jiwa, dari hati-hati yang hampa. ALlah dengan kelembutannya mengkaruniakan kita pekerjaan-pekerjaan besar yang gunung-gunung gagah pun enggan menerimanya. Maka dengan kebeningan jiwa dan kesucian hatilah pekerjaan-pekerjaan mulia berkail amanah itu bisa kita tuntaskan. Akhi, begitu banyak kekuatan dan planning setan dalam emperlambat dan mangacaubalaukan erja dakwah kita. Sungguh tidak sedikit modal yang kita siapkan dalammenghajar segala bentuk kekufuran yang mereka promosikan. "Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambatkan, yang dengannya kamu menggetarkan musuh-musuh Allah, musuh-musuhmu dan musuh yang tidak kau ketahui sedang Ia mengetahui." (QS alAnfal). Kekuatan Iman dan doa, keluasan ilmu dan tsaqofah, kejernihan jiwa dan ruh, hingga keperkasaan jasad dan strategi. Plus Disiplin.
Akhi, begitu banyak bagian dari modal-modal tempur kita telah peroleh atas izin-Nya. Belum sempurna memang, namun proses pematangan dan penempaan alamiah akan terus berjalan. "Am hasibtum an tadkhulul jannah ...al-Baqoroh:204" Belum jelas siapa dari kita yang lolos verifikasi amal di akhirat, yakin masuk surga? Sementara amal-amal kita belum seujung kuku dari kerja dakwah RasuluLlah SAW wa sahabat. Satu dari amalan yang menunjang kita dalam proses pengusungan kebangkitan Islam ialah sikap disiplin. Komit dengan waktu, komitmen dengan janji. Ialah sebuah kekuatan yang memaksimalkan kekuatan iman dan senjata doa yang dimiliki. Ialah pengiring dalam memantapkan keluasan ilmu dan tsaqofah kita. Disiplin mengajarkan kita beramal dengan ahsan profesional. Tanpanya barisan dakwah pun berantakan. Tanpa disiplin tujuan-sasaran-target dakwah melemah. Maka displin menjadi mutlak dimiliki setiap jundi-jundi fii sabilillah.
Saudaraku fillah, ketika Umar bin Khaththab ra mendisiplinkan warior-wariornya untuk selalu bersiwak dalam sebuah pertempuran, terjadilah percepatan kemenangan. Tika Khalid bin Walid ra mengatur barisan brimob dan infantrinya dalam Mut'ah dan Yarmuk dengan full kedisplinan, maka pasukan musuh yang sampai 10-60 kali lipat pun bisa terpukul parah. Disilplin yang diajarkan Rasulullah SAW ialah ketika sahabat dilarang merusak tanaman dan rumah ibadat dalam sariyah dan patroli, maka sahabat tidak merusak tanaman dan rumah ibadat. Ketika dilarang membuka surat perintah dalam 2 hari perjalan, maka sahabat tidak membuka surat perintahnya. Ketika intruksi Panglima SAW hanya mengintai, maka sahabat pun sekedar mengintai sekalipunberkesempatan membunuh.Bukanlah kedisiplnanRabbaniah itu seperti yangditampilkan oleh pasukan panah Muslim di perang Uhud.Bukan pula oleh sahabat yang membunuh saat masuk Rajab (bulan haram berperang) ketika perintah hanya sekedar berspionase. Bukan pula disiplin itu sikap yang hadir dalam diri Kaab bin Malik ra.Disiplin ialah sami'na wa atho'na. DIsiplin ialahmeresapi 'Waktu adalah pedang'. Disiplin bukan terlambat, terlebih menetang. Disiplin ialah tepat waktu, tepat sasaran. Nah, akhi sudahkah kita mewarnai kerja-kerja dengan kedisplinan?
Suatu hari rasulullah punya janji meeting dengan seseorang di suatu tempat. RasuluLlah datang on time bahkan menunggu seharian guna menunaikan janjinya. Dalam memenuhi hak istri-istrinya pun Rasul melakukannya dengan disiplin. RasuluLlah sangat menekankan agar umatnya tepat waktu dalam menunaikan sholat jamaah. Sebab sholat jamaah dimulai dari panggilan adzan hingga penutupan salam sholat memberikan sebuah tarbiyah indhiba' (pembinaan kedisiplinan). Dalam memenuhi hak istri-istrinya pun Rasul melakukan dengan disiplin. Entah bagaimana jadinya jika Fathu Makkah, tidak terlaksana sesuai jadwal waktu yang diplanningkan. Seorang sahabat ra yang ditugaskan menjaga pasukan berinisiatif mengisinya dengan sholat, tiba-tiba panah melesat dan menancap di tubuhnya. Namun ia terus melanjutkan sholatnya karena keengganan memutus bacaan sholatnya yang begitu terkhusyukkan, hingga panah berikutnya mampir lagi. Kita melihat betapa ia sangat khusyu dan taqorrub, namun dari segi askariyah/militer, barangkali panah tersebut merupakan teguran Allah atas kelalaiannya menjaga. Bagaimanakah kiranya saat ia sholat kemudian satu kompi pasukan kufar menerobos lewat posnya sementara ia sedang asyik sholat hingga tidak sempat memperingatkan pasukan muslim yang lain. Entah apa akibat yang diperoleh muslimin saat menghadapi tentara salibis dalam perang salib, jika saja Shalahuddin tidak menerapkan kedisiplinan dalam penjagaan dan qiyamul lail tentaranya.
Saudaraku, suatu hari dalam acara rihlah, para ikhwan berangkat dengan sebuah mobil bus, dan ketika ikhwan menaiki bus tersebut, mereka berebutan kursi hingga Imam Hasan alBanna membatalkan rihlah tersebut demi melihat kejadian tersebut. Maka bagaimanakah dengan kedisiplinan kita akhi? Bagaimanakah dengan komitmen kita terhadap kerja dakwah? Terhadap janji dan ketepatan waktu kita?
"Insya Allah jam 09.00 kita rapat, setuju?". "Setuju".
Besoknya,"Afwan,ana terlambat 30 menit."
"Afwan ana ada urusan mendadak."
"Afwan tadi sedang fotokopi, jadi terlambat."
"Afwan ..."."Ya, baiklah kita buka rapat pukul 10.00. Pekan depan jam 10.00 kita mulai."
Pekan depannya,"afwan ...."
"Ok akhi kita buka acara kita jam 11.00."
"Gimana laporan amal kerja dakwah antum, hari minimal 90% selesai yah?!"
"E... afwan ana sudah 60%."
"Ana baru 30%, afwan ya akhi.."
Barangkali cuplikan dialog singkat pernah kita jumpai akhi, atau sering dijumpai? Lihatlah ketika ikhwah membuat acara seminar atau pengajian atau sejenisnya. Di pamplet/publikasi terpampang acara di mulai pukul 08.00, pada hari H dengan berbagai kendala acara dimulai pukul 09.00 waktu setempat. Dalam undangan rapat tertulis jam 13.00, akhirnya demi menunggu keterlambatan satu-persatu personil, rapat dimulai jam 14.00 Lalu apa yang membedakan kita dengan masyarakat ammah.
Akhi, apa yang bisa kita qudwah-kan kepada masyarakat kita kalau ternyata komitmen kita terhadap waktu dan kerja dakwah sama lembeknya dengan mereka. Bukankah kita kader dakwah, selalu menggaungkan uswatun hasanah RasuluLlah SAW. Dimana kedisiplinan kita akhi ...
Akhi, ana pernah dalam satu hari menghadiri 4 acara rapat planning dakwah kampus plus liqoat (diisi). Dari rapat yang dihadiri 'pejabat tinggi' kampus sampai rapat kepanitian kecil, semuanya terlambat dimulai. Plus liqoat yang hampir setiap pekannya terlambat. Jika guru kencing berdiri maka murid kencing berlari. Seorang ulama pernah berkata :Jika ulama terbiasa dengan yang mubah, maka umat biasa dengan yang makruh. JIka ulama terbiasa dengan yang makruh, maka umat terbiasa dengan yang syubhat. Jika ulama biasa dengan yang syubhat maka umat terbiasa dengan yang haram, Jika ulamanya melakukan yang haram, maka umat pun menjadi kafir."
Sebuah gambaran standar posisi guru dan murid. Dua rapat pleno yang membahas grand design dakwah kampus, semua terlambat datang kecuali seorang akhwat. Ana sendiri terlambat 3 menit, pun dengan mati-matian tepat waktu, sampai berlari-lari menuju ruangan,... eh taunya 'para petinggi' belum satu pun yang nongol. Bagaimana kader di bawah atau objek dakwah bisa disiplin jika gurunya saja ....
Ketika ana mengawal ustadz Anis Matta Lc jaulah keliling Sulsel, dalam satu pagi rombongan ba'da subuh jalan-jalan menghirup udara fresh paginya Pare-pare. Ana mencuri tanya kepada beliau tentang kedisplinan. Beliau mengatakan ada 2 hal yang membuat seseorang terlambat, pertama karena kemalasan, kedua karena kesibukan aktivitas dakwah yang padat. Yang berbahaya dan berpengaruh negatif terhadap kinerja dakwah ialah yang pertama.
Akhi, ada 2 kekhawatiran ana terhadap fenomena ketidakdisiplinan ini, ialah :
1. Memperlambat pencapaian target/kinerja dakwah. Jika kita terbiasa terlambat, maka kebiasaan ini pun menular pada kerja-kerja lainnya. Apalagi jika terlambat karena kemalasan. Jika kita punya jadwal rapat jam 08.30, ba'da subuhnya kita berdzikir, mandi dan bersih-bersih. Jam 07.00-08.00 sarapan + nonton berita, 08.00-08.20 pergi memfotokopi berkas lanjut perjalanan ke tempat tujuan rapat 08.20-08.45. Bertemu dengan ikhwah dan mengatakan afwan tadi sedang fotokopi jadi terlambat. Sementara jasa fotokopi sudah buka pukul 07.00!!! TIdak heran dalam rapat Grand Design dakwah kampus ana terkekeh kecil dalam hati mendengar target-target waktu pencapaiannya. Dan terbukti, tidak ada yang memenuhi target. Lamban bin lambat.
2. Dosa. Kita bersepakat berkumpul jam 10.00 dalam sebuah acara. Saat hari H ana punya cucian yang selesai jam 10.30 atau mengerjakan laporan praktikum yang akan selesai jam 10.45. Namun demi memenuhi janji ana menunda pekerjaan ana untuk datang pada janji I, berkumpul jam 10.00. Dan ternyata mereka terlambat dan acara dimulai jam 11.00. Kalaulah sebelumnya disepakati jam 11.00 niscaya sekian pekerjaan telah selesai, dan ana hanya bisa menunggu sambil mengingat PR-PR yang bertumpuk. Ana melihat ini sebagai aktivitas penzholiman terhadap saudara. Dan masih banyak kejadian sejenis sebagai bentuk penghargaan terhadap waktu yang bagitu 'sederhana'.
Hup. Akhi, antum punya solusi? Afwan sudah jam 04.30 dan ana mulai ngantuk. Kita nyambung di lain kesempatan...
BRIGADE - 01/Nugra S
Sabtu, 19 April 2008
Rosullullah
Dibalik Kehidupan insanbernama: “Nabi Muhammad SAW”Kalau ada pakaian yang koyak,Rasulullah menambalnya sendiri tanpa perlu menyuruh isterinya.Beliau juga memerah susu kambinguntuk keperluan keluarga maupun untuk dijual.Setiap kali pulang ke rumah,bila dilihat tiada makanan yang sudah siap di masak untuk dimakan,sambil tersenyum baginda menyingsing lengan bajunyauntuk membantu isterinya di dapur.Sayidatina 'Aisyah menceritakan:”Kalau Nabi berada di rumah, beliau selalu membantu urusan rumahtangga. Jika mendengar azan, beliau cepat-cepat berangkat ke masjid, dan cepat-cepat pulang kembali sesudah selesai sembahyang." Pernah baginda pulang pada waktu pagi. Tentulah baginda amat lapar waktu itu. Tetapi dilihatnya tiada apa pun yang ada untuk sarapan. Yang mentah pun tidak ada karena Sayidatina 'Aisyah belum ke pasar. Maka Nabi bertanya, "Belum ada sarapan ya Khumaira?" (Khumaira adalah panggilan mesra untuk Sayidatina 'Aisyah yang berarti 'Wahai yang kemerah-merahan') Aisyah menjawab dengan agak serba salah, "Belum ada apa-apa wahai Rasulullah." Rasulullah lantas berkata, ”Kalau begitu aku puasa saja hari ini." tanpa sedikit tergambar rasa kesal di wajahnyaPernah baginda bersabda, "sebaik-baik lelaki adalah yang paling baik dan lemah lembut terhadap isterinya." Prihatin, sabar dan tawadhuknya baginda sebagaikepala keluarga.Pada suatu ketika baginda menjadi imam solat. Dilihat oleh para sahabat, pergerakan baginda antara satu rukun ke satu rukun yang lain amat sukar sekali. Dan mereka mendengar bunyi menggerutup seolah-olah sendi-sendi pada tubuh baginda yang mulia itu bergeser antara satu sama lain.Sayidina Umar yang tidak tahan melihat keadaan baginda itulangsung bertanya setelah selesai bersembahyang :"Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah tuan menanggung penderitaan yang amat berat, tuan sakitkah ya Rasulullah?" "Tidak, ya Umar. Alhamdulillah, aku sehat dan segar" "Ya Rasulullah... mengapa setiap kali tuan menggerakkan tubuh, kami mendengar seolah-olah sendi bergesekan di tubuh tuan? Kami yakin engkau sedang sakit..." desak Umar penuh cemas.Akhirnya Rasulullah mengangkat jubahnya.Para sahabat amat terkejut. Perut baginda yang kempis, kelihatan dililiti sehelai kain yang berisi batu kerikil, buat menahan rasa lapar. Batu-batu kecil itulah yang menimbulkan bunyi-bunyi halus setiap kali bergeraknya tubuh baginda."Ya Rasulullah! Adakah bila tuan menyatakan lapar dan tidak punya makanan, kami tidak akan mendapatkannya buat tuan?"Lalu baginda menjawab dengan lembut,”Tidak para sahabatku. Aku tahu, apa pun akan engkau korbankan demi Rasulmu. Tetapi apakah akan aku jawab di hadapan ALLAH nanti, apabila aku sebagai pemimpin, menjadi beban kepada umatnya?" "Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah ALLAH buatku, agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia ini lebih-lebih lagi tiada yang kelaparan di Akhirat kelak."Baginda pernah tanpa rasa canggung sedikitpun makandi sebelah seorang tua yang penuh kudis, miskin dan kotor. Hanya diam dan bersabar bila kain rida'nya direntap dengan kasar oleh seorang Arab Badwi hingga berbekas merah di lehernya. Dan dengan penuh rasa kehambaan baginda membasuh tempat yang dikencingi si Badwi di dalam masjid sebelum menegur dengan lembut perbuatan itu. Kecintaannya yang tinggi terhadap ALLAH swt dan rasa kehambaan dalam diri Rasulullah saw menolak sama sekali rasa ketuanan. Seolah-olah anugerah kemuliaan dari ALLAH tidak dijadikan sebab untuk merasa lebih dari yang lain, ketika di depan umum maupun dalam keseorangan. Ketika pintu Syurga telah terbuka, seluas-luasnya untuk baginda, baginda masih berdiri di waktu-waktu sepi malam hari, terus-menerus beribadah, hingga pernah baginda terjatuh, lantaran kakinya sudah bengkak-bengkak.Fisiknya sudah tidak mampu menanggungkemahuan jiwanya yang tinggi.Bila ditanya oleh Sayidatina 'Aisyah,"Ya Rasulullah, bukankah engkau telah dijamin Syurga? Mengapa engkau masih bersusah payah begini?"Jawab baginda dengan lunak,"Ya 'Aisyah, bukankah aku ini hanyalah seorang hamba? Sesungguhnya aku ingin menjadi hamba-Nya yang bersyukur.”
Langganan:
Postingan (Atom)
